[FOCUS] Seni Lukis Bentuk Pandangan Stefanie Sun terhadap Musik

Kurang lebih dua tahun lalu, Stefanie Sun mulai melukis. Dia mengikuti acara Nasional bertajuk SkillsFuture, yang menyediakan dana SG$ 500 bagi warga Singapura berusia 25 tahun keatas untuk mengembangkan potensi mereka.

Menemukan bakat baru, penyanyi kelahiran Singapura ini mendaftarkan studi di Nanyang Academy of Fine Arts. “Kegiatan melukis hampir sama seperti meditasi. Setelah menyelesaikan sesuatu yang indah, Anda akan merasa puas. Musik adalah seni suara, sementara saya orang yang sangat visual. Ketika mendengar sebuah lagu, kepalaku dipenuhi gambar dan warna,” ucap Stefanie, 39 tahun.

Melukis juga memberinya inspirasi untuk melihat musik dengan cara yang berbeda. Dalam album barunya, “A Dancing Van Gogh”, fokusnya ada pada pelukis asal Belanda itu.

“Vincent van Gogh memiliki hidup yang dramatis. Dia memotong telinga kiri, dan karena depresi, ia menembak dadanya dengan pistol revolver. Sebelum meninggal, van Gogh belum begitu dikenal dunia,” kata Stefanie di sebuah acara promosi album. “Gila, tapi pengabdiannya yang teguh terhadap seni menjadikannya sebagai salah satu figur terkenal dan berpengaruh dalam sejarah seni rupa Barat.”

A Dancing Van Gogh is out. Quick go order/listen/watch now.🙏🏼🙏🏼Please thank you.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Stef Sng (@stefsunyanzi) pada

Dalam lagu utama yang berjudul sama di album “A Dancing Van Gogh”, Stefanie menggambarkan kegelapan dunia dengan tegas, ditemani simfoni orkestra–yang jelas bukan gaya musik khas nya.

17 tahun berkarier, Stefanie telah merilis 13 album penuh dan memiliki fan base besar di Asia—berkat lagu-lagu ballad tentang cinta.

“A Dancing Van Gogh dianggap sebagai kepergianku mengarah gaya musik dan cara bernyanyi yang berbeda. Tapi setiap orang memiliki sisi gelap, meski kita selalu terdorong untuk mengejar sisi baik dalam hidup kita.”

Lagu terakhir di album, ‘Immense Beauty’, didedikasikan untuk seri ‘Wheat Field’ Van Gogh, “Saya merasakan keindahan saat menyanyikan lagu ini, yang tidak hanya menggambarkan kegelapan tapi juga harapan. Lagu ini sangat tepat dijadikan penutup album.”

Musik adalah seluruh kehidupan Stefanie. Dia belajar piano sejak usia 5 tahun, dan menulis lagu pertamanya ‘Someone’ saat menjalani studi di NTU (Nanyang Technological University). Stefanie kemudian mengikuti sekolah musik yang didirikan oleh Paul & Peter Lee, keduanya adalah penulis lagu dan produser populer asal Taiwan. Di tahun 2000, dia merilis album self-titled yang disambut meriah oleh pendengar.

Stefanie Sun terharu bahagia atas kejutan mentornya, Paul & Peter Lee.

Di acara konferensi “A Dancing Van Gogh” di Beijing, kehadiran Paul dan Peter membuat Stefanie terharu.

“Saya mengingat pertemuan pertama kami di sekolah, waktu dia masih muda. Sekarang dia sudah dewasa, dan tahu jelas apa yang dia inginkan,” ucap Paul Lee.

Stefanie berkata, “Mereka telah menjadi mentor-ku selama 20 tahun.” Paul dan Peter juga memproduksi album terbarunya. Dia melanjutkan, “Melihat kebelakang, semua ini terasa seperti mimpi. Musik memiliki pengaruh besar dalam hidupku. Dulu saya terbiasa melakukan konser di dalam kamar mandi. Selama saya menikmati prosesnya, saya akan melakukannya. Musik adalah makanan untuk jiwa.”

[see_also number=3]

Pada tahun 2011, Stefanie menikahi kekasihnya, pria berdarah Belanda-Indonesia, Nadim van der Ros. Satu tahun kemudian, dia melahirkan anak pertamanya, berjenis kelamin laki-laki. Sebelum merilis album “Kepler” di tahun 2014, Stefanie menghindari sorotan dunia hiburan.

“Menjadi seorang ibu, hal ini telah merubahku. Ketika single, Anda memiliki banyak waktu, tapi sekarang Anda harus merawat anak. Saya biasanya bernyanyi untuknya, dan keluar dari kamar ketika dia sudah tidur.” Lagu ‘Rainbow Bot’, yang dirilis tahun 2016, didedikasikan Stefanie untuk putranya.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *